Legong Kreasi ”Karna Gugur”

Legong Kreasi ”Karna Gugur”

Produksi GEOKS-Singapadu/Gianyar

Karya: I Wayan Dibia

Jumat, 8 Januari 2010

Di GEOKS-Singapadu/Gianyar

legong
Legong kreasi ”Karna Gugur” adalah sebuah karya Palegongan. dengan lakon gugurnya Adipati Karna dari cerita Bharata Yudha. Dalam garapan ini kisah gugurnya Karna dicoba untuk disajikan secara lebih simbolis sesuai konsep dan prinsip estetik Palegongan.

Sinopsis
Setelah gugurnya Resi Drona di tangan Drestajumena, Prabu Duryadana mengangkat Adipati Karna sebagai senapati Korawa. Di pihak Pendawa, Prabu Yudhistira menugaskan Arjuna untuk menghadapi Karna. Guna mencegah terjadinya perang antara dua ber-saudara ini, diam-diam Dewi Kunti mendatangi Karna sambil membujuknya agar mengurungkan niatnya untuk maju ke medan laga menghadapi Pendawa. Permintaan Kunti ditolak oleh Karna yang dengan tegas mengatakan bahwa dirinya telah siap untuk menghadapi Arjuna. Bagaikan telah menjadi kehendak Dewata, Karna akhirnya tewas di medan Kurukasetra di tangan Arjuna.

Karya Palegongan ini terdiri atas 4 (empat) bagian:
1.    Masa jeda perang, pasukan Korawa tiba-tiba digegerkan oleh dibunuhnya Resi Drona oleh Drestajumena. Sebagai penggan-tinya, Duryadana menunjuk Karna sebagai senapati.
2.    Kegelisahan para Pendawa, terutama Dewi Kunti, setelah mendengar penetapan Karna sebagai senapati Korawa.  Atas saran Sri Kresna, Yudhistira menunjuk Arjuna untuk mengha-dapi Karna.
3.    Percintaan Karna dengan istrinya Dewi Sruti Kanti menjelang saat perang tiba. Di keheningan malam muncul bayangan Bhagawan Ramaparasu yang mengutuk Karna di masa lalu. Karna kemudian dikagetkan oleh datangnya Dewi Kunti yang membujuk Karna agar membatalkan niatnya menjadi senapati Korawa. Karna menolak permintaan ini sembari meminta Kunti untuk meninggalkan kemahnya.
4.    Perang (di atas kereta) antara Karna (dengan kusir Prabu Salya) dengan Arjuna (dengan kusir Prabu Kresna) yang berakhir dengan tewasnya Karna.

Karya Palegongan ini diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan tujuh nada (saih pitu) dari Sanggar Pulo Candani Wiswakarma, Batubulan di bawah pimpinan I Ketut Pradnya (Sraya Bali Style), dengan pembina dan pelatih tabuh I Nengah Susila.

Para Penari:
G.A. Savitri, Diah Yeti Mahayani,  Nyoman Wahyu Adi Gotama, Rima Febriana, Komang Septi Ariati, Luh Gede Candra Pratiwi, Made Liza Anggara Dewi, G.A. Sri Widyan Ningsih, Nengah Ari Wijayani, Diah Nava Utaminingsih, Luh Indrayanti, Anik Duasti Hartini, Komang Tri Paramityaningrum, I A. Ratih Wagiswari, Putu Sinta Ulantari, Ketut Yuli Ardyanthi, Wayan Okta Ningsih, Wayan Nismahayati, G.A Tirta Rasmanik

Para Penabuh:
Wayan Lastyaga Satwika, Made Yogi Satya Satwika, Komang Swakarma Satwika, Ketut Pertiwi Satwika, Komang Apti Lestari, Luh Trisna Dewi, Ketut Kristiani, Luh Sri Jayanti, Kadek Nonok, Komang Trilokya, Komang Yogi Purwanta, Kadek Aristyawan, Komang Agustyawan, Komang Wiwin, Made Dwi Paramita, Komang Yogga Trisna Putra, Made Ari Bagas, Nengah Susila, Komang Arimbawa, Paula, Komang Tapa Yasa, Nengah Susila.

Juru Tandak:
I Ketut Kodi

Staff Produksi:
Penanggung Jawab Umum:
I Wayan Sudana

Koreografer: I Wayan Dibia
Asisten: Cokorda Istri Putra Padmini, Ni Wayan Suartini.

Komposer: I Wayan Dibia
Asisten: I Nengah Susila

Penata Rias dan Busana:
Ni Made Wiratini, Cokorda Istri Putra Padmini, Ni Wayan Suartini,
Ni Nyoman Mulyati.

Penata Panggung:
I Wayan Susila
I Wayan Budarma

Penata Lampu:
Lila dan Mang Tri
Stage Manager:
Ngurah Sudibya
Publikasi dan dokumentasi:
I Dewa Darmawan, Alit Widusaka.

About The Author

Wayan Dibia

Other posts byWayan Dibia

Author his web site

29

01 2010

0Trackbacks/Pingbacks

  1. Kylie Batt 21 04 10

Your Comment